BASISBERITA.COM, Manado – Sepanjang 2025, Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan tingkat inflasi terendah secara nasional sebesar 1,23 persen (year on year/yoy). Capaian ini mencerminkan stabilitas harga yang terjaga di tengah dinamika ekonomi nasional maupun global.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut (KPw BI Sulut), Joko Supratikto saat Refreshment Wartawan yang dirangkaikan dengan Kick Off 3rd Festival Jurnalistik Tahun 2026 di KPw BI Sulut, Kamis (26/2/2026) mengatakan rendahnya inflasi terutama dipengaruhi panen raya dan melimpahnya pasokan dari daerah pemasok sepanjang tahun.
“Sehingga mampu menjaga kestabilan harga komoditas pangan utama. Kondisi tersebut membuat tekanan harga dari kelompok bahan makanan relatif terkendali,” kata Supratikto.
Secara tahunan, komoditas emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi seiring kenaikan harga emas global akibat gejolak geopolitik. Di sisi lain, komoditas daging babi justru menahan laju inflasi sejalan dengan pemulihan stok pascawabah African Swine Fever (ASF) yang sebelumnya sempat menyebabkan kelangkaan pasokan.
Memasuki Januari 2026, inflasi tahunan di Sulut tercatat mengalami kenaikan yang terutama dipengaruhi faktor administered prices, khususnya dampak penyesuaian tarif listrik pada tahun sebelumnya. Selain itu, inflasi inti juga terdorong kenaikan harga emas perhiasan.
Sementara itu, secara bulanan, tekanan inflasi lebih didominasi kelompok volatile food, terutama komoditas tomat dan hasil perikanan tangkap. Tingginya curah hujan menyebabkan penurunan produksi pertanian serta terbatasnya aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan, sehingga memicu kenaikan harga.
Ke depan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulut pada 2026 diprakirakan tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. Potensi kenaikan harga terutama bersumber dari fluktuasi komoditas pangan, peningkatan aktivitas penerbangan seiring pembukaan rute baru, serta kemungkinan berlanjutnya tren kenaikan harga emas global.
Namun demikian, tekanan inflasi diperkirakan dapat tertahan melalui pelaksanaan Program Swasembada Pangan yang mendorong penyerapan produk pertanian dan peternakan lokal sebagai bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, optimalisasi intervensi stabilisasi harga terus diperkuat melalui penyaluran bantuan pangan beras kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), distribusi beras SPHP, operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, serta penguatan peran Kios TPID di daerah.(sco)

