Ekonomi

Tantangan Keberlanjutan Pertanian di Sulut

BASISBERITA.COM, Manado – Ketahanan pangan berpotensi terancam. Akibat dari jumlah petani yang mulai berkurang. Masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) didorong bertani untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS), rumah tangga usaha pertanian di Sulut per tahun 2023 berjumlah 262.075. Paling banyak berada pada usia 45-54 tahun dengan jumlah 77.980. Sementara usia 15-34 tahun hanya 23.331 kalah dengan lanjut usia 64 tahun ke atas berjumlah 46.631.

Data diambil dari BPS Sulut.

Sementara untuk petani milenial dari usia 19-39 tahun, sesuai Sensus Penduduk 2023 BPS mencatat berjumlah 108.408 petani dengan rincian lak-laki 102.284 dan perempuan 6.124.

Menariknya, generasi muda ini sudah mulai menggunakan teknologi, baik itu teknologi digital maupun modern. Khusus laki-laki di usia milenial, ada sebanyak 13.733 sementara perempuan 378 menggunakan teknologi. Memang berbeda jauh dengan yang tidak gunakan teknologi, laki-laki (32.736) dan perempuan (1.840).

Kepala BPS Provinsi Sulut, Aidil Adha mengatakan petani milenial menggunakan teknologi digital mencakup penggunaan internet, smartphone hingga kecerdasan buatan untuk kegiatan pertanian. Sedangkan teknologi modern, ia mencontohkan petani memakai alat dan mesin pertanian dengan teknologi terkini.

“Penggunaan unsur teknologi ini dilakukan agar praktik pertanian efektif dan efisien,” tuturnya.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi Sulut, mengatakan pihaknya sedang memikirkan pengganti petani kelapa yang mulai berkurang dengan teknologi.

“Kita rancang teknologi menggunakan alat. Itu mutlak kita kembangkan ke depan,” kata Sulaiman kepada sejumlah media usai Rapat Hilirisasi Perkebunan Hilirisasi Perkebunan di Ruang CJ Rantung Kantor Gubernur Sulut, Jumat (12/09/2025).

Kendati Mentan hanya menekankan teknologi tersebut untuk petani kelapa, namun hal yang sama juga harus digunakan untuk petani lainnya di sektor pertanian.

Adapun, petani yang beralih profesi karena mereka merasa kurang untung atau malah merugi.

Namun data BPS menunjukkan bahwa petani di Sulut terbilang sejahtera. Januari hingga Agustus 2025, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut berada di atas angka 100. Awal tahun berada pada 120, sementara Agustus naik menjadi 131.

NTP ini merupakan rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani. Untuk Agustus ini, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 162 sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 123.

Basisberita.com turun ke lapangan mencoba mencari info terkait kurangnya masyarakat menjadi petani.

Lexi (50-an tahun) mulai terjun ke dunia pertanian karena memanfaatkan lahannya yang tidak digarap. Lokasinya berada di Desa Parepei Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa. Ia mengaku memiliki lahan hampir 7 hektare, tidak semua lahan ditanami tanaman. Sebagian cabai rawit alias rica, ada juga tomat dan kini dirinya mulai mencoba menanam sambiki.

“Saya baru di dunia pertanian. Awal mula bertani tahun 2022. Cuma memanfaatkan lahan yang tidak dipakai,” kata dia.

Kendati terbilang masih pemula di pertanian, namun ia ‘ketagihan’ bertani. Apalagi, dirinya sudah merasakan keuntungannya. “Bertani selain bisa untuk penuhi kebutuhan keluarga, juga ada hasilnya,” terangnya. Ia pun meninggalkan pekerjaannya di Kota Manado hanya untuk fokus pada pertanian.

Kalau petani yang satu ini cukup berpengalaman. Bahkan ia telah gonta-ganti tanaman holtikultura yang ditanamnya. Mulai dari tomat, kacang panjang, bawang merah dan saat ini ia sedang menanam rica.

Alasan pria 59 tahun yang tinggal di Kota Tomohon ini, tidak pasti menanam satu saja tanaman karena harganya yang tak juga pasti.

“Waktu tanam tomat, hasilnya kurang,” kata Freddy begitu ia biasa disapa.

Padahal, ia sudah lama menjadi petani. Tapi dirinya masih bingung waktu yang tepat untuk menanam. “Sebelum tanam tomat saya juga tanam rica tapi, saat panen harganya malah anjlok,” ujarnya.

Menariknya, ia mengaku memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanamnya.

“Saya mengikuti contoh salah satu penyuluh lewat Youtube. Penyuluh itu memberikan panduan saat bertani. Contoh, pemberian racun, itu jangan sembarangan. Karena ada racun yang sudah kedaluarsa. Itu akan berpengaruh pada tanaman,” ungkapnya.

Dengan mengikuti panduan dari penyuluh tersebut, ia mengklaim bisa panen rica mulai 105 hari sejak awal tanam, sementara panennya bisa mencapai 30 kali.

“Ada sebanyak 24 kali panen hingga 30 kali. Tapi memang produksinya sudah mulai menurun,” ujarnya.

“Ya, hasilnya ada yang sampai puluhan juta,” ujar dia, yang mengaku lahannya tak sampai 1 hektare.

Dirinya yang berkecimpung dengan pertanian sejak anaknya bersekolah di salah satu SD di Kota Tomohon, mengaku bangga menjadi petani. “Puji syukur saat ini putri saya bisa bergelar sarjana. Ini karena hasil dari bertani,” tukasnya.

Berbeda dengan Doni, pria asal Desa Ranoketang Kabupaten Minahasa Selatan ini meninggalkan sektor pertanian karena ia mengaku tak meraih keuntungan. Ia lebih memilih menjadi kuli bangunan. “Kita rasa lebe untung jadi tukang daripada bertani. Kalau tukang tiap minggu ada doi, mar kalu petani tunggu berbulan-bulan. (Saya rasa lebih untung jadi tukang daripada bertani. Kalau tukang tiap meinggu ada uang, tapi kalau petani nanti hasilnya berbulan-bulan),” ungkapnya, Minggu (20/7/2025).

Sementara Melki, pria yang berasal dari Kabupaten Minahasa Utara ini berstatus Aparatur Sipil Negara, tapi beliau ‘nyambi’ menjadi petani. Ia terjun ke sektor pertanian berawal dari pandemi Covid-19. Awalnya yang ditanam adalah rica.

Padahal, ia merupakan seorang administrator di Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, namun dirinya meluangkan waktu tiap akhir pekan untuk bertani. Dirinya juga mulai mengenalkan dunia pertanian kepada anak-anaknya.

“Tanah kita ini subur, kalau tidak dijaga dan dirawat akan punah. Makanya sudah perkenalkan pertanian pada anak-anak saya, yang masih duduk di bangku SD,” tuturnya.

Berbeda dengan Donald, petani asal Langowan yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Karapita ini mengaku rutin menanam padi. Berkat konsistensi, ia bersama kelompok taninya mendapat bantuan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Bantuan berupa alat dan mesin pertanian telah didapatinya dari BI. Bukan hanya itu saja, salah satu anggota kelompok tani mereka ikut dilatih dalam Program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto membeber Program PATUA telah dimulai sejak tahun 2020. Dalam program ini, petani mendapat pendampingan termasuk dibimbing dan dilatih agar lebih berkembang.

Program PATUA sebelumnya dikenal dengan Petani Unggulan Bank Indonesia (PUBI), sudah ada puluhan petani ikut program yang dibuat agar petani punya ketrampilan unggul dan berdaya saing.

Program ini mencakup pelatihan, pendampingan, hingga akses pembiayaan, dengan penguatan pada tiga pilar utama: kelembagaan, kapasitas petani, dan akses modal.

Masalah petani, diungkap Supratikto, sering diperbincangkan dengan pemerintah daerah. Sinergi dan kolaborasi yang dilakukan lewat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), di mana tim ini rutin melakukan High Level Meeting (HLM) ke seluruh kabupaten/kota di Sulut.

Memang diakuinya, pihaknya tidak memaksa masyarakat menjadi petani. Namun, dalam HLM, ia mengajak pemerintah untuk mendorong muncul petani baru yang berasal dari generasi muda.

Petani muda ini, bakal mendapat bantuan dari BI berupa bibit, pupuk hingga alat dan mesin pertanian seperti cultivator, sprayer dan alkon.

“Kami Bank Indonesia berkomitmen mendukung petani milenial di Sulawesi Utara. Karena sektor pertanian masuk salah satu program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” ungkapnya.

Pengamat Ekonomi Sulut Gerdi Worang menilai keputusan petani beralih profesi karena tuntutan hidup. Menurut dia, masih lebih menguntungkan menjadi seorang ojek online daripada bertani.

Ia pun menyoroti pupuk yang dinilainya masih mahal. Akibatnya petani ganti profesi. Dirinya menyarankan Sulut mempunyai pabrik sendiri untuk mengatasi pupuk

“Saya lihat pupuk di sini mahal. Sebaiknya pemerintah berpikir untuk bikin pabrik (pupuk). Kalau ada pabrik bisa mengurangi biaya sehingga profit untuk petani naik,” ujarnya dibalik telepon genggam, Sabtu (13/9/2025) siang.

“Kalau (pendapatan) hanya beda tipis dengan Ojol (Ojek Online), lebih baik pilih Ojol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” sambungnya.

Akademisi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado ini juga mengingatkan pertumbuhan ekonomi yang berada 5,64 persen (year on year) pada triwulan II tahun 2025 ini, di mana sektor pertanian memiliki andil yang tinggi. Dari sisi sumber pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha, pertanian penyumbang kedua yakni 1,34 persen.

Ia mengharapkan semakin banyak generasi muda di Sulut menggeluti sektor pertanian karena ini menyangkut dengan ketahanan pangan. Bila petani minim akan diikuti dengan hasil pertanian yang berkurang.

“Jangan sampai terjadi krisis pangan. Sektor pertanian harus diperkuat. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Perlu menjalin kolaborasi yang intens dengan pihak swasta, stakeholder berkaitan termasuk Bank Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulut Yulius Selvanus peduli dengan petani. Sejumlah petani telah diberikan bantuan pertanian. Bahkan, untuk memperkuat sektor pertanian, orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai ini berhasil melobi pemerintah pusat untuk mengakomodir 5.000 hektare benih padi.

“Sudah ada 256 ton benih padi yang telah dikirim ke Sulut. Ini merupakan hasil dari lobi Pak Gubernur. Bantuan benih ini untuk memenuhi musim tanam, September hingga Desember 2025,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut Nova Pangemanan, belum lama ini.

Selain benih padi, Yulius juga berkomitmen membantu sektor pertanian di Sulut.

Gubernur Yulius pun meminta perbankan perluas penyaluran kredit bagi petani. “Petani yang baru perlu modal. Itu harus jadi perhatian perbankan,” tegasnya.(sco)

Baca Juga

Apresiasi Nasabah Istimewa di Makassar, CIMB Niaga Gelar Wealth Xpo

Basis Berita

HLM TPID Bitung Bahas Strategi Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga Pangan

Basis Berita

Jelang Idul Fitri, BI Sulut Bersama Pemda hingga Perbankan Bahas Pengendalian Inflasi

Basis Berita