Pemerintahan

Tomohon Dorong Gaya Hidup Minim Sampah, Kolaborasi Jadi Kunci

BASISBERITA.COM, Tomohon — Pemerintah Kota Tomohon mulai mengintensifkan langkah menuju pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui Workshop Zero Waste Lifestyle for Tomohon City yang digelar di Command Center Pemkot Tomohon, Selasa (24/02/2026).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Tomohon, Caroll J. A. Senduk bersama Wakil Wali Kota Sendy G. A. Rumajar. Workshop turut menghadirkan narasumber dari UN-Habitat yakni Urban Development Expert Sovanarith Sieng serta Local Project Officer Indonesia Mula Pralampita Nursetianti.

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa program ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Phase II merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya yang dirancang untuk memperkuat implementasi urbanisasi berkelanjutan, khususnya di kota-kota menengah seperti Tomohon.

Menurutnya, tekanan urbanisasi yang semakin kompleks—mulai dari pertumbuhan penduduk, perubahan iklim hingga keterbatasan sumber daya—menjadikan isu pengelolaan sampah, sanitasi, dan air bersih sebagai prioritas mendesak. “Jika tidak ditangani secara sistematis, persoalan ini akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan ketahanan kota,” ujarnya.

Tomohon sendiri telah terlibat aktif dalam forum regional, termasuk ASEAN Sustainable Urbanisation Forum 2025, yang memperkuat komitmen kota dalam mendukung target nasional Indonesia bebas sampah 2029.

Saat ini, pengelolaan sampah di Tomohon masih terpusat di TPA Regional Tara-Tara dengan luas sekitar 5,3 hektare. Meski dirancang sebagai sanitary landfill, praktik di lapangan belum sepenuhnya optimal. Produksi sampah harian tercatat sekitar 51,6 ton, dengan dominasi 70 persen sampah organik yang belum tertangani maksimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkot terus mengembangkan berbagai program seperti pengolahan sampah berbasis sumber (PPSOT), integrated farming di Kakaskasen, serta community composting di Tara-Tara Raya sebagai proyek percontohan.

Namun, sejumlah kendala masih dihadapi, antara lain lemahnya koordinasi lintas sektor, belum terintegrasinya data persampahan, hingga keterbatasan anggaran. Selain itu, inovasi masyarakat dan praktik baik di lapangan dinilai belum terhubung dengan sistem kebijakan formal.

Melalui workshop ini, Pemkot berharap dapat merumuskan rekomendasi konkret yang dapat langsung diimplementasikan dalam kerangka ASUS Tahap II, termasuk penyusunan city technical proposal berbasis kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Kegiatan ini juga diikuti Ketua DPRD Kota Tomohon Ferdinand Mono Turang, Ketua TP-PKK drg. Jeand’arc Senduk-Karundeng, jajaran pemerintah, akademisi, peneliti, komunitas lingkungan, hingga organisasi non-pemerintah.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, Tomohon menargetkan transformasi menuju kota yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan, dimulai dari perubahan gaya hidup masyarakat sehari-hari.(AP)

Baca Juga

Bupati FDW Dampingi Gubernur OD Peletakkan Batu Pertama Pembangunan Screen House di Modoinding

Basis Berita

Steve Kepel Lepas Fun Run 5K Count Down Event Road To PON XXI 2024 Aceh-Sumut

Basis Berita

Irup Hari Bhayangkara ke-79 Tahun, Gubernur Yulius Selvanus: Polri untuk Masyarakat

Basis Berita