Ekonomi

Kredit Perbankan Sulut Tumbuh 5,91 Persen, BI Dorong Penguatan Sektor Produktif

BASISBERITA.COM, Manado – Kinerja perbankan di Sulawesi Utara (Sulut) pada Triwulan IV 2025 menunjukkan tren positif. Kredit perbankan tercatat tumbuh 5,91 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan kualitas kredit yang tetap terjaga, tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,55 persen.

Dari sisi sumber pembiayaan, penyaluran kredit masih didominasi Sektor Perdagangan dan Pertambangan. Sementara itu, kredit ke Lapangan Usaha (LU) utama pembentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) seperti Sektor Pertanian dinilai masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan dengan tetap memperhatikan pengelolaan risiko.

“Hal ini sejalan dengan program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan pangan, dan penguatan gizi, yang akan menjadikan sektor pertanian sebagai demand anchor perekonomian daerah,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut (KPw BI Sulut), Joko Supratikto saat Refreshment Wartawan yang dirangkaikan dengan Kick Off 3rd Festival Jurnalistik Tahun 2026 di KPw BI Sulut, Kamis (26/2/2026).

Di sisi lain, dibeberkan Supratikto, untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat tumbuh lebih tinggi, yakni 10,99 persen (yoy). Kondisi ini mendorong Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 166,72 persen.

Sepanjang 2025, suku bunga acuan Bank Indonesia telah turun sebesar 100 basis poin menjadi 4,75 persen. Namun demikian, transmisi ke suku bunga perbankan masih relatif terbatas. Suku bunga deposito tercatat turun 32 bps, sementara suku bunga Kredit Investasi (KI) turun 59 bps, Kredit Konsumsi (KK) turun 46 bps, dan Kredit Modal Kerja (KMK) turun 21 bps.

Berdasarkan jenisnya, kredit di Sulut masih didominasi Kredit Konsumsi dengan pangsa 59 persen, yang turut menopang konsumsi rumah tangga. Adapun Kredit Modal Kerja memiliki porsi 25 persen dan Kredit Investasi sebesar 16 persen.

“Ke depan, diperlukan upaya diversifikasi untuk mendorong peningkatan kredit produktif, khususnya Kredit Investasi dan Modal Kerja, agar mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi sektor riil,” tuturnya seraya menegaskan diperlukan sinergi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri perbankan menjadi penting guna mengakselerasi penyaluran kredit produktif secara prudensial.

Berdasarkan kinerja makroekonomi dan intermediasi perbankan tersebut, perekonomian Sulut pada 2026 diprakirakan akan tumbuh lebih kuat dibandingkan capaian 2025.

Proyeksi penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya akseptansi digital, pemulihan sektor pariwisata seiring pembukaan rute penerbangan baru dan penambahan frekuensi penerbangan domestik maupun internasional, serta peningkatan perdagangan internasional.

Potensi reaktivasi direct-call Indonesia–Tiongkok melalui Pelabuhan Bitung juga diperkirakan menjadi katalis perdagangan ekspor-impor daerah. Selain itu, implementasi program prioritas pemerintah, termasuk percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG), diyakini akan mendorong konsumsi pemerintah sekaligus menjadi penopang permintaan bagi sektor Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan di Sulut.(sco)

Baca Juga

Kendalikan Inflasi Jelang Idul Fitri, Begini Upaya yang Dilakukan BI Sulut

Basis Berita

Dekranasda Sulut Dorong Kerajinan Kelapa jadi Produk Unggulan Daerah

Basis Berita

CIMB Niaga Menjadi Pembeli Pertama Unit Karbon dalam Peluncuran Bursa Karbon Indonesia

Basis Berita